Live Streaming
Otoritas Jasa Keuangan ( 5 Mei ) menjalin kerjasama dengan dua universitas di Yogyakarta sebagai upaya mendorong peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan sektor jasa keuangan, peningkatan literasi dan edukasi keuangan, serta pelindungan konsumen keuangan.
Penandatanganan Nota Kesepahaman pertama dilakukan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dengan Rektor Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Kasiyarno di Kampus UAD di Yogyakarta. Sementara penandatangan Nota Kesepahaman kedua dilakukan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dengan Rektor UniversitasMuhammadiyah Yogyakarta Gunawan Budiyanto di Kampus UMY di Yogyakarta.
“Tingkat akses keuangan masyarakat Indonesia masih tertinggal dari negara-negara peer, dan perlu terus ditingkatkan. Salah satu faktor yang perlu didorong untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat, selain pembangunan infrastruktur pendukung industri jasa keuangan, adalah melalui peningkatan literasi keuangan masyarakat,” kata Muliaman.
Berbagai studi baik dari kalangan perguruan tinggi maupun lembaga terkemuka dunia seperti Bank Dunia menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingginya tingkat literasi keuangan (Financial Literacy) dan terbukanya akses keuangan (Financial Inclusion) masyarakat, dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Survei yang dilakukan oleh Bank Duniapada tahun 2014 menunjukkan bahwa mayoritas negara-negara dengan tingkat pendapatan tinggi memiliki tingkat akses dan literasi keuangan yang juga tinggi.
Khusus untuk Indonesia, berdasarkan survey Bank Dunia tersebut terlihat tingkat kepemilikan rekening (account penetration) di antara penduduk dewasa Indonesia baru mencapai 36%, masih lebih rendah dari rata-rata ASEAN atau rata-rata negara berkembang yang masing-masing telah mencapai 50% dan 54%, serta jauh di bawah rata-rata negara-negara maju (OECD High Income Country) yang sudah mencapai 94%.
Sementara berdasarkan survei yang dilakukan oleh S&P bersama Bank Dunia pada tahun 2014, tingkat literasi keuangan penduduk dewasa Indonesia baru mencapai 32%, masih lebih rendah dari rata-rata ASEAN yang mencapai 34%.
OJK sendiri pada tahun 2013 dan 2016 telah melaksanakan sendiri Survei Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan. Dari hasil survei terlihat bahwa Indeks Literasi Keuangan Indonesia mencapai 29,7%, meningkat dari 21,8% pada tahun 2013. Sementara Indeks Inklusi Keuangan Indonesia mencapai 67,82%, meningkat dari 59,74% pada tahun 2013.
Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah, masing-masing tercatat sebesar 8,11% dan 11,06%. Khusus untuk provinsi DI Yogyakarta, Indeks Literasi dan Iklusi Keuangan masing-masing tercatat 38,55% dan 76,73%, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Oleh sebab itu, OJK memandang penting setiap upaya mendorong peningkatan perlindungan konsumen dan masyarakat.