Live Streaming
Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) menyelenggarakan Artificial Intelligence (AI) Bootcamp & National Competition dengan tema “Magnifica Humanitas: Lead Beyond AI for Communication Students” di Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara, Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung pada 6–11 Oktober 2026 ini menjadi wadah bagi mahasiswa ilmu komunikasi untuk mempelajari dan menerapkan kecerdasan artifisial (AI) dalam mengembangkan solusi atas persoalan di masyarakat.
Program ini diinisiasi dan dikelola bersama oleh Tim Peneliti Kolaboratif lintas perguruan tinggi APTIK yang terdiri dari 5 universitas yaitu:
Selama kegiatan, mahasiswa mengikuti 14 modul pembelajaran dengan pendampingan dosen dari perguruan tinggi penyelenggara. Mereka juga diajak mengamati persoalan di sejumlah lokasi di Yogyakarta dan mewawancarai masyarakat untuk memperoleh informasi langsung sebagai dasar pengembangan solusi.
Hasil pengamatan tersebut kemudian diolah dalam kelompok melalui tahapan empathize, define, dan idea. Mahasiswa selanjutnya mengembangkan prototipe dengan bantuan perangkat AI berdasarkan persoalan yang telah mereka identifikasi. Prototipe tersebut dipresentasikan dalam kompetisi di hadapan dewan juri pada Sabtu (10/10/2026).
Ketua Tim Penyelenggara APTIK AI Bootcamp dan National Competition, Drs. Mario Antonius Birowo, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia Tahun 2025, dimana pada tahun tersebut Mario dengan tim mengumpulkan sejumlah data dari berbagai sumber yang kredibel, data-data yang terkumpul kemudian diolah dan dituangkan ke dalam 14 modul yang pada tahun 2026 ini kemudian diimplementasikan selama masa kegiatan AI Bootcamp dan National Competition.
“Hari pertama kami melihat mahasiswa masih meraba-raba, apa sih kira-kira yang akan didapat kemudian dari hari-hari berikutnya mulai kelihatan bagaimana bentuk perkembangan mahasiswa, karena memang modul yang dibuat dengan sistematis tersebut akan terasa tautannya atau jalinannya yang utuh hingga acara puncaknya hari ini (Sabtu), berupa karya yang kita namakan prototipe hingga mempraktikan produk AI yang relevan dengan anak ilmu komunikasi, ini menjadi seperti laboratorium di mana mahasiswa bereksperimen, dimana nantinya jika mereka mempunyai waktu yang lebih panjang mereka akan membuat sesuatu yang lebih bagus lagi,” tambah Mario.
Salah satu peserta dari UKWMS, Michael Marcellino, mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui kegiatan tersebut. Selain mempelajari pemanfaatan AI, ia juga mendapat kesempatan bertukar wawasan dengan peserta dari berbagai latar belakang.
“Pengalaman yang luar biasa bisa mendapat insight dari berbagai macam latar belakang, terima kasih banyak kepada Bapak/Ibu dosen yang sudah memberikan ilmu selama kegiatan ini,” ungkap Michael.
Melalui AI Bootcamp & National Competition, APTIK berharap mahasiswa ilmu komunikasi tidak hanya mampu memahami perkembangan teknologi AI, tetapi juga menggunakannya secara kreatif dan bertanggung jawab untuk menghasilkan solusi yang relevan bagi masyarakat.